Profesional TI dan Peningkatan Daya Saing Industri Telematika

Dari tahun ke tahun, di banyak negara Asia, termasuk negara tetangga Indonesia di kawasan ASEAN, industri telematika atau ICT (Information and Communication Technology), telah mendapat perhatian yang cukup besar. Berbagai inisiatif dilakukan, baik yang terkait dengan pengembangan dan penerapan telematika, maupun peningkatan jumlah dan kualitas sumberdaya profesional TI yang mendukungnya.

Berbagai kebijakan diambil guna mendukung berbagai inisiatif yang telah digulirkan, yang semuanya bermuara pada bagaimana mengambil manfaat optimal dari perkembangan telematika dunia bagi pembangunan bangsa, baik itu ekonomi, politik, pertahanan maupun budaya. Telematika tidak semata-mata dilihat sebagai suatu industri yang terpisah, melainkan ditempatkan pada posisi yang seimbang antara sebagai enabler percepatan pembangunan bangsa melalui berbagai penerapan di berbagai bidang dan sektor, dan sebagai industri yang bisa megontribusi terhadap pendapatan negara sebagaimana industri-industri lainnya.

Hari ini, hampir tidak ada industri atau perusahaan di Indonesia yang tidak memanfaatkan telematika bagi peningkatan daya saing bisnisnya. Tidak ada industri atau bisnis yang masih mengandalkan berbagai perangkat, sistem atau solusi tradisional dalam lingkungan bisnis yang sangat kompetitif dan membutuhkan kecepatan. Baik kecepatan dalam mengambil berbagai keputusan bisnis strategis, maupun kecepatan dalam memberikan pelayanan, terutama karena berhadapan dengan para pesaing yang juga telah menerapkan berbagai aplikasi dan perangkat telematika yang maju.

Namun, dalam lingkungan bisnis yang sangat kompetitif sekarang ini, terbukti industri telematika Indonesia masih menghadapi persoalan klasik, yakni kurangnya ketersediaan sumber daya manusia TI yang berkualitas dan minimnya dukungan permodalan. Hal ini bukan saja menjadi kendala perusahaan-perusahaan telematika yang sudah eksis, melainkan terutama juga bagi perusahaan-perusahaan yang baru akan berkembang (start-up).

Dari hasil kajian Bandung High-Tech Valley (BHTV), dengan perkiraan pendapatan ekspor industri Teknologi Informasi sebesar 8,2 miliar dolar AS pada tahun 2010, dibutuhkan tak kurang dari 350 ribu tenaga profesional TI. Saat ini, setidaknya ada sekitar sebelas profesi TI yang perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan, yakni operator, teknisi komputer, trainer, peneliti, konsultan, programmer, project manager, graphic designer, network specialist, database administrator, dan system analyst. Bukan hanya jumlahnya, kualitasnya juga harus menjadi perhatian penting untuk dipenuhi, terutama dalam upaya meningkatkan daya saing industri telematika nasional.

Peningkatan daya saing industri telematika lokal, tidak bisa begitu saja terjadi hanya karena pemerintah atau industri dalam negeri telah membuka diri untuk menjadi pengguna berbagai produk telematika lokal. Persoalan yang dihadapi adalah bagaimana solusi atau produk tersebut memiliki standarisasi yang jelas dan tingkat kompetensi pengembangnya yang bisa dinilai setara dengan standarisasi dan kompetensi yang berlaku di industri. Begitu juga adanya dukungan iklim berbisnis yang sehat, sehingga sangat kondusif bagi perkembangan kreativitas dan produktivitas industri telematika lokal.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian, bahwa saat ini Indonesia memiliki 50 perusahaan komputer skala menengah-besar dan 5.000 perakit komputer skala kecil. Sedang di industri peranti lunak ada sebanyak 154 perusahaan pengembang skala menengah-besar, 214 perusahaan skala kecil, dan 150 perusahaan animasi.

Belakangan Indonesia, memang berinisiatif mengembangkan kawasan berbasis industri TI seperti Regional ICT Center of Excellent (RICE), yang katanya hampir serupa dengan pengembangan technopark di India dan Multimedia Super Corridor Malaysia. RICE di dikembangkan di kota-kota besar Indonesia, antara lain Medan, Jakarta, Bogor, Bandung, Cimahi, Surabaya, Denpasar dan Manado.

Namun, saya menilai, tanpa adanya suatu kerangka pengembangan telematika yang jelas, termasuk tahap-tahapan pengembangannya dalam jangka waktu tertentu, berbagai inisiatif yang telah dilakukan hingga saat ini, masih akan terfragmentasi karena tidak adanya main point yang akan dicapai dan diperjuangkan.

Karena, industri telematika tak bisa begitu saja diserahkan ke pasar dan dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Pengalaman di banyak negara menunjukkan hal itu. Itulah mengapa Malaysia membangun MSC (Multimedia Super Corridor), Singapura dengan Singapore One, India dengan kawasan Bangalore, begitu juga negara-negara lainnya di Asia. Bedanya kalau mereka telah mengembangkannya sepuluh-lima belas tahun yang lalu, Indonesia baru ingin melaksanakannya saat ini.

Karenanya, yang kita perlukan lebih pada adanya komitmen dan visi yang jelas dari penyelenggara negara ini dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa, baik sumberdaya manusianya maupun industri dan pencapaian bidang-bidang lainnya. Dan, bagaimana kita memosisikan telematika dalam upaya tersebut, sehingga akan semakin memperjelas langkah-langkah yang akan dikembangkan, dan kesiapan partisipasi berbagai pihak, dan tentunya kalangan swasta. Semoga.